Lutung – Taksonomi, Morfologi, Perilaku, Sebaran & Kelangkaan


Lutung adalah salah satu jenis satwa yang mempunyai kemiripan dengan monyet, bahkan bagi sebagian orang sukar membedakannya. Hal tersebut cukup masuk akal, alasannya hewan ini mempunyai acuan hidup seperti monyet kebanyakan. Meski sering disamakan dengan monyet, namun lutung memiliki ciri fisik dan perilaku khusus yang berlainan.





Spesies ini dapat ditemui di aneka macam daerah di dunia tidak terkecuali di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia. Sebarannya yang luas menjadikannya terbagi menjadi beberapa spesies sesuai dengan habitatnya. Salah satu spesies yang hidup di Indonesia adalah Lutung Jawa.






Taksonomi





Lutung Jawa adalah salah satu spesies endemik penghuni Pulau Jawa. Spesies ini memiliki beberapa nama lain, seperti Lutung Budeng dalam Bahasa Jawa, Lutung Jawa dalam Bahasa Sunda, serta petu dan hirengan oleh masyarakat Bali. Secara global hewan ini disebut sebagai Ebony Leaf Monkey, Javan Langur, dan Javan Lutung.





Meskipun disebut sebagai Lutung Jawa, pada kenyataannya hewan ini tidak hanya ditemui di Pulau Jawa. Kondisi ini kemudian mengakibatkan lahirnya subspesies gres.





lutung jawa




Berikut ini yaitu taksonomi atau klasifikasinya, terutama Lutung Jawa.





KingdomAnimalia
FilumChordata
Sub-filumVertebrata
KelasMammalia
OrdoPrimata
FamiliCercopithecidae
GenusTrachypithecus
SpesiesTrachypithecus auratus




Selain nama Latin Trachypithecus auratus, International Union for Conservation of Nature juga mengenal lutung dengan nama lain, mirip Trachypithecus maurus, Trachypithecus kohlbruggei, Trachypithecus sondaicus, Trachypithecus stresemanni, dan Trachypithecus pyrrhus.





Tidak cuma itu, menurut persebaran di Indonesia, Lutung Jawa juga dapat dibagi menjadi dua sub-spesies. Kedua sub-spesies tersebut yaitu Trachypithecus auratus auratus dan Trachypithecus auratus mauritius.






  • Trachypithecus auratus auratus atau disebut Spangled Langur Ebony ialah sub-spesies yang hidup di sepanjang daerah Jawa Timur, Pulau Bali, Lombok, Pulau Sempu, serta Nusa Barung.




  • Trachypithecus auratus mauritius atau juga dikenal selaku Jawa Barat Ebony Langur yaitu sub-spesies yang hidup cuma di daerah Pulau Jawa dalam jumlah terbatas, yaitu cuma ada di Jawa Barat dan Banten.





Morfologi





Lutung yang hidup di Indonesia mempunyai ukuran badan relatif kecil jika dibanding spesies yang lain. Ukuran tubuh primata dengan nama Latin Trachypithecus auratus ini cuma sekitar 59,7 cm kalau diukur dari ujung kepala sampai dengan punggungnya, sedangkan ekornya berskala lebih panjang yaitu sekitar 74,2 cm.





Binatang yang memiliki rambut badan berwarna hitam ini memiliki berat tubuh rata-rata 6,3 kg. Selain itu pada tubuhnya juga terdapat corak berwarna keperak-perakan dan di bagian kepalanya terdapat jambul berwarna kelabu pucat. Sebagian besar badan lutung berwarna hitam dan bahkan ada yang sepenuhnya hitam.





Warna tubuhnya mengalami pergantian sesuai pertumbuhan usia. Ketika baru lahir beberapa individu cuma mempunyai kulit berwarna kuning sampai jingga dan tidak ditumbuhi rambut. Lutung yang lahir dengan keadaan seperti ini lazimnya sehabis berusia enam bulan akan berubah menjadi abu-abu, cokelat, atau hitam.





jenis lutung




Akan tetapi pada beberapa kondisi juga didapatkan lutung sampaumur yang memiliki warna keemasan atau jingga. Hanya saja lutung dengan warna seperti ini sungguh jarang ditemui dan hanya ada di tempat timur Pulau Jawa. Pada bab matanya terdapat garis mirip cincin yang mengitari mata dengan warna kebiru-biruan.





Berdasarkan warna tubuhnya, ada perbedaan antara betina dan jantan yang bisa diamati setelah hewan ini remaja. Lutung betina mempunyai warna lebih pucat, yakni putih kekuningan di bagian dalam dari paha atas dan pinggang, terdapat bulu dengan warna pucat di bagian pantat, serta rambut punggungnya memiliki warna hitam yang lebih pekat.





Perilaku & Karakteristik





Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya bahwa lutung memiliki sikap hidup harian yang menjadi ciri khas dari satwa ini. Perilakunya cukup bermacam-macam dan menyesuaikan dengan keperluan serta cara adaptasinya.





Berikut ini yakni beberapa karakteristik lutung yang biasa dilaksanakan di kehidupan liar, adalah:





1. Hidup Dalam Kelompok Kecil





Spesies Trachypithecus auratus lazimnya hidup dalam kelompok kecil dengan jumlah sekitar 6 hingga 23 ekor. Setiap golongan terdiri atas satu pemimpin yang ialah lutung jantan, beberapa betina, dan juga anak-anak lutung yang masih berada dalam pengawasan induknya.





Lutung jantan memiliki perilaku mendominasi setiap anggota kelompoknya lainnya. Sikap dominasi tersebut meliputi upaya pemberian, pergerakan sehari-hari, dan juga observasi. Aktivitas sehari-hari lutung akan semakin beragam apabila hidup di daerah terbuka dengan kondisi yang kering.





Dalam hal santunan para jantan akan berupaya untuk mempertahankan setiap anggota golongan dari ancaman luar seperti dari kelompok yang lain. Selain itu lutung jantan juga menjadi penggagas untuk mengarahkan anggota kalangan melakukan acara sehari-hari mirip mencari makanan hingga beristirahat.





2. Binatang Diurnal





Lutung termasuk ke dalam kelompok hewan diurnal atau hewan yang melaksanakan kegiatan lebih banyak di waktu siang hari dibanding malam hari. Spesies yang masuk dalam kalangan primata ini mulai aktif ketika matahari terbit dan akan berangsur-angsur berhenti ketika matahari mulai terbenam.





3. Binatang Arboreal





Binatang arboreal merujuk pada satwa yang lebih banyak menghabiskan waktu berkegiatan di atas pohon dibanding berjalan di atas tanah. Aktivitas mirip makan sampai tidur pun dijalankan di pohon. Pada waktu tertentu lutung akan berjalan pada cabang-cabang pepopohan.





Ketika beristirahat dan makan lutung akan duduk di atas pohon dengan ekor menggantung. Perilaku ini berfungsi untuk menyeimbangkan tubuhnya. Satwa ini bergerak mulai dari berjalan, berlari, sampai melompat di atas pepohonan dengan memanfaatkan keempat tungkainya.





4. Memiliki Wilayah Jelajah Luas





Satwa yang seperti kera ini dikenal memiliki kawasan jelajah yang cukup luas. Dalam satu hari penjelajahan kawanan lutung dapat meraih radius 500 sampai 1.500 meter dengan kawasan jelajah seluas 5 sampai 23 hektar. Luas dan radius tersebut sangat bergantung pada keadaan lingkungan atau habitat serta kawasan teritorial.





Wilayah jelajah yang luas menjadikan teritorinya seringkali tidak mampu terpetakan dengan baik di mana antara teritori golongan satu dengan lainnya bisa saling tumpang tindih. Meski begitu beberapa golongan lutung mampu hidup berdampingan tanpa adanya pertengkaran yang berarti antar kelompok.





Namun masalah yang kerap terjadi yakni saat ada lutung soliter atau hidup menyendiri mencapai daerah teritorial golongan yang lain. Apalagi bila lutung soliter masuk ke kawasan kekuasaan kalangan lainnya. Hal itu akan menyebabkan perkelahian antara lutung soliter dengan pejantan mayoritas di kelompoknya.





Habitat dan Persebaran





Secara biasa habitat hidup lutung adalah daerah hutan yang berada di ketinggian sekitar 3.600 meter di atas permukaan bahari. Ketinggian ini mampu ditemui di wilayah Pegunungan Himalaya, daerah kering di Ceylon dan India, serta hutan hujan yang ada di Indochina dan Assam.





Khusus di Asia Tenggara lutung juga membentuk habitat di sepanjang hutan mangrove daerah Malaysia dan Pulau Kalimantan. Sedangkan di Pulau Jawa spesies ini hidup di kawasan dataran rendah gabungan, hutan sekunder, dan tepi hutan primer yang ditandai dengan keberadaan pohon jati, pohon akasia, dan pohon mahoni.





Lutung di Pulau Jawa juga diketahui sering timbul di sekitar area perkebunan penduduk. Hal itu didorong oleh menyempitnya ekosistem satwa yang berasal dari kelompok primata ini. Lingkungan mangrove atau hutan bakau juga bisa menjadi habitat lutung yang hidup di Pulau Jawa.





Kelompok lutung yang terdiri dari terlalu banyak spesies mampu ditemui nyaris di seluruh dataran Benua Asia yang mencakup India, Pakistan, Nepal, Kepulauan Ceylon, hingga Asia Tenggara. Di kawasan Asia Tenggara, lutung hidup di negara mirip Thailand, Malaysia, dan Indonesia.





Sementara itu khusus untuk spesies Trachypithecus auratus yang dikenal sebagai Lutung Jawa hanya dapat dijumpai di pulau-pulau Indonesia mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Lombok. Binatang ini tidak hidup di daerah yang dilalui Garis Wallace selain Pulau Lombok.





Status Kelangkaan





Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, spesies lutung Trachypithecus auratus tergolong dalam kelompok Vulnerable (VU). Status ini diberikan kepada satwa dan tumbuhan yang kondisinya rentan di alam bebas termasuk Lutung Jawa.





lutung perak




Status kelangkaan satwa ini mengalami kenaikan dan penurunan sesudah sebelumnya pada tahun 1996 berstatus Vulnerable (VU) kemudian menjadi Endangered (EN) atau terancam punah pada tahun 2000. Kemudian pada tahun 2008 statusnya kembali diturunkan menjadi Vulnerable hingga saat ini. Meski begitu status tersebut bahwasanya masih perlu untuk di­-update kembali.





Diketahui bahwa kenaikan status Lutung Jawa dari terancam punah menjadi rentan disebabkan oleh naiknya jumlah populasi satwa ini sebanyak 30% semenjak 36 tahun terakhir atau selama tiga dekade. Hal tersebut lalu memberi dampak yang cukup baik untuk kelancaran hidup binatang ini selama 12 tahun ke depan.





Makanan Lutung





Lutung diketahui sebagai kelompok primata pemakan flora atau disebut selaku herbivora. Oleh karena itu satwa satu ini selalu mencari habitat untuk dihuni yang mampu menyanggupi keperluan makannya. Bagian tanaman yang biasa dimakan lutung antara lain dedaunan, kuncup bunga, dan juga buah-buahan.





Binatang yang hidup di atas pohon ini juga bisa mencerna kuliner yang mempunyai tekstur keras, karena di dalam lambung primata ini terdapat empat ruang pencernaan. Umumnya jenis dedaunan yang dikonsumsi lutung berasal dari tumbuhan hutan yang secara lazim bertekstur keras sehingga sulit dikunyah dan ditelan.





Tidak hanya itu, kandungan gizi yang diharapkan lutung dari makanannya yakni protein yang diketahui sangat sukar untuk terurai. Pasalnya dedaunan dilindungi oleh serat serta zat Tannin dan Phenol mirip getah. Akan namun lutung memiliki keunggulan di bagian lambungnya yang tidak hanya memiliki empat ruang atau sekat. 





Pada lambung lutung terdapat kelenjar air ludah berukuran besar serta kuman yang memiliki kegunaan dalam proses fermentasi. Bakteri dan kelenjar itulah yang membantu untuk mempercepat proses pembusukan dedaunan di dalam lambung, sehingga gampang untuk dicerna. Proses pencernaan lutung ini mirip dengan yang terjadi pada binatang ruminatia mirip sapi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagaimana Cara Menangani Anemia Pada Remaja?

Experience the Ultimate Retro Vibe at Aviator Nation Dreamland: Your Perfect Weekend Getaway Destination

Cara Menurunkan Berat Badan Malam Hari